SISTEM
KEMASYARAKATAN – SOSIAL BUDAYA
Sistim kekerabatan masyarakat Desa Rajawetan berdasarkan prinsip bilateral atau parental yaitu mengikuti garis keturunan Ayah dan Ibu, sedangkan dalam keluarga yang bertindak menjadi kepala keluarga adalah Ayah. Berdasarkan asal usul terbentuknya desa Rajawetan didirikan hanya oleh 2 (Dua) orang buyut Yakni BUYUT TERSANA dan BUYUT BADOT jadi kalo dilihat silsilahnya sampai saat ini 80 persen penduduk dan warga Desa Rajawetan masih mempunyai garis keturunan yang sama dengan masih terikat tali persaudaraan sedarah “ atau Baraya Kabeh “ sedangkan Keluarga batih adalah keluarga kecil yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak.
Sisitem kekerabatan atau turunan silsilah yang
dipegang teguh oleh masyarakat Desa Rajawetan masih mengakui ego turunan
generasi baik dari keluarga Ayah maupun garis keturunan Ibu.
Dengan terus menceritakan kepada anak dan cucunya
siapa-siapa saja turunan dari Ibu dan Ayah, bahkan sampai memperkenalkan
makam-makam para orang tua kepada anak-dan cucu tentang makam tersebut.
Adapun ego turunan/generasi yang melekat yakni :
v Tujuh generasi
keatas : kolot, Bapak kolot/Biang Kolot, Buyut, Bao, Jangga Wareng, Udeg Udeg
dan Gantung Siwur
v Tujuh Generasi Kebawah : Anak, Incu, Buyut, Bao,
Jangga Wareng, Udeg Udeg dan Gantung Siwur
Namun sampai
tulisan ini dibuat generasi yang mampu dan sampai kegenerasi/turunan ke empat
hanya 1 (Satu) orang warga yaitu : IBU UTIMAH, beliau sampai pada generasi “
BAO (Generasi Keempat). Tingkatan generasi yang jarang dimasuki oleh siklus
kehidupan manusia saat ini, Kebanyakan hanya masuk tingkatan ketiga
“Buyut/Uyut.
Pada saat menentukan
pasangan hidup para orang tua tidak pernah memaksakan kehendak nya atas pilihan
kepada keturunan tertentu dengan catatan dan masih
tetap dipegang teguh tidak melanggar
ketentuan agama. Setelah menikah, penggantin baru diperbolehkan untuk memilih
dimana harus menetap setelah menikah, di tempat kediaman istri atau suami
tetapi pada umumnya mereka memilih tinggal di tempat baru atau neolokal.
1.
Bahasa
Bahasa sunda
yang digunakan oleh penduduk Desa Rajawetan mengenal tingkatan dalam bahasa,
yaitu bahasa untuk membedakan golongan usia dan status sosial antara lain,
yaitu :
Bahasa sunda lemes (halus) yaitu dipergunakan untuk
berbicara dengan orang tua, orang yang dituakan atau disegani.
Bahasa sunda sedang yaitu digunakan antara orang yang
setaraf, baik usia maupun status sosialnya
Bahasa sunda kasar yaitu digunakan oleh atasan kepada
bawahan, atau kepada orang yang status sosialnya lebih rendah.
Dalam bahasa
sunda dikenal pula kosa kata sejarah dan sarsilah (silsilah, silsilah) yang
maknanya kurang lebih sama dengan kosa kata sejarah dan silsilah dalam bahasa
Indonesia. Makna sejarah adalah susun galur atau garis keturunan seperti yang
terdapat di wilayah Kabupaten Kuningan Umumnya atau pada regional wilayah
Mandirancan dan pancalang, terdapat perbedaan dialek atau logat dalam
mengungkapkan atau mengatakan suatu kata walau arti dan makna yang
disampaikannya adalah sama, seperti yang ada di tiga Desa sekitar Desa
Rajawetan, Desa Rajawetan – Desa Tajurbuntu dan Desa Mekarjaya padahal hanya
berjarak puluhan meter saja sudah mempunyai dialek atau naik turunnya ucapan
yang disampaikan.
2.
Agama dan
Kepercayaan
Sebagian
besar masyarakat Desa Rajawetan menganut
Agama Islam AHLI SUNNAH WALJAMAAH dan sebagian besar pula memeperoleh dasar
Ilmu dan Pengetahuan Agama Islam
langsung dari Orang tua.
Seiring
perjalanan waktu dan perkembangan jaman dimana arus globalisasi teknologi
begitu cepat merambah ketiap sudut wilayah indonesa tidak terkecuali di Desa
Rajawetan, dan kalau kita telaah sarana prasarana serta informasi bahkan
pemenuhan berbagai kebutuhan hidup di desa sudah sangat mudah di akses dan di
dapat, sehingga seolah tak ada batasannya, yang selama ini orang beda bedakan
antara desa dan kota, yang membedakan hanya letak geografis, budaya dan gaya
hidup semata. Yang lain sama saja.
Dari
berbagai kemudahan kemudahan tersebut diatas pada titik tertentu akhirnya
sedikit demi sedikit mampu menggeser adat dan kebiasaan yang ada di Desa
Rajawetan. Sebelum masuknya pengaruh tersesebut diatas banyak kegiatan
pengajian yang dilaksanakan di rumah para guru ngaji maupun tajuk, serta dengan
begitu antusianya anak-anak yang mengikuti pengajian, beberapa tokoh Guru ngaji
yang sampai saat ini masih dapat kita minta ilmunya seperti : Bapak Asbur –
Bapak Jamhari – Bapak Apandi dan Bapak Sukmana, begitu besar kontribusi beliau
dalam hal mencetak pribadi – pribadi muslim di Desa.
Ketika masa
transisi perubahan karakter terjadi dimana ada beberapa tradisi dan rutinitas
kehidupan desa mulai hilang, kita merasa bersyukur dengan difasilitasi oleh
pemerintah saat ini telah berdiri Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah di bawah
binaan Bapak Ustadz Muhamad Yusuf Abdul Rouf. (Ustadz Uje), seiring perjalanan
dan suka duka serta kondisi yang sangat serba kekurangan terutama dalam hal
kelengkapan sarana dan prasarana, namun dengan penuh kesabaran, keikhlasan dan
penuh rasa pengabdian kegiatan MDTA sampai saat ini masih eksis berjalan, dan
telah mampu mengikuti kegiatan ujian beberapa kali bagi para siswanya.
Memang
terlintas dalam benak kita semua dan andai kita mau jujur, timbul pertanyaan
yang membebani dan menganjal di hati kita masing-masing. Perihal kenapa justru
kegiatan bidang keagamaan masih terlupakan terutama dalam program perencanaan
yang berkaitan dengan keagamaan. Kami selaku penulis dan juga atas nama
pemerintahan desa di Rajawetan, saat ini setelah program jangka menengah desa
lima tahunan akan berakhir baru terbesit dalam pikiran kenapa kegiatan
pembangunan khususnya bidang keagamaan belum tertuang menjadi skala prioritas,
secara pribadi kami jelas merasa terpukul namun secara kepemrintahan ini
merupakan kesalahan kita bersama.
Kenapa pada
disaat penyusunan RPJMDes, kemudian pada kegiatan Musrenbangdes yang pada
akhirnya disusun RKPDes (Kegiatan pembangunan Tahunan) Musyawarah bersama masyarakat kegiatan bidang
Agama tersebut terlupakan. Sehingga dengan sendirinya pada program rencana
kerja yang kami buat jelas berdasarkan hasil musyawarah bersama masyarakat.
Semoga hal
ini menjadi bahan pemikiran bersama bagi kita semua terutama Pemerintah Desa
Rajawetan untuk lebih memperhatikan bidang keagamaan terutama bidang pendidikan
agama untuk para putra-putri kita. Sangat miris dan prihatin kalo kita melihat
kondisi umum bangsa indonesia yang telah benar-benar hancur dan terpuruk ini
akibat tingkat keimanan dan moral bangsa telah rusak bahkan terkesan hancur,
mungkin salah satu cara untuk menyelamatkan nasib bangsa kita kedepan adalah
dengan saat ini dan detik ini kita ciptakan generasi penerus bangsa yang
mempunyai ahklak yang mulia sehingga mampu menghadang godaan-godaan yang bakal
menghancurkan derajat moral bangsa ke jurang kehancuran.
Adalah
sebuah kealpaan cukup besar bagi kami selaku pemerintah desa apabila pada
tahun-tahun berikutnya masih belum mampu memasukan kegiatan bidang agama
kedalam pembangunan prioritas di Desa, terutama pembangunan bidang pendidikan
agama di MDTA, adalah sebuah ironi atau mungkin sebuah hiperbola ketika MDTA
yang jelas-jelas lebih dulu ada di banding Pendidikan anak usia dini (PAUD)
bagi putra-putri kita malah lebih dulu memperoleh porsi yang lebih, memang
keduanya sama-sama mendidik putra-putri kita namun akan lebih bijaksana apabila
kedua bidang pendidikan tersebut kita tempatkan pada posisi yang seimbang.
Semoga Allah
SWT mau memaafkan kita semua atas sedikit kealpaan yang pernah diperbuat>
Dalam
kesempatan ini Kami mengingatkan, terutamam bagi diri sendiri, masyarakat serta
khususnya Pemerintah Desa Rajawetan agar memasukan Kegiatan Pendidikan Bidang
Keagamaan pada RPJMDes yang akan kembali disusun, serta mengagendakan MDTA
serta memasukannya pada skala priotitas kegiatan pembangunan di RKPdes tiap
tahun berjalan, semoga apabila hal tersebut bisa dimasukan kedalam rencana
prioritas mudah-mudahan pula dapat menjadi pedoman bagi Pemerintah Desa dalam
pelaksanaan dan Realisasinya.
3.
Sosial
Budaya
Desa
Rajawetan merupakan desa induk, berdiri awal secara kultural budaya yang ada di
sebagian besar Desa-desa yang ada di Pulau Jawa, dengan berbagai keterikatan
oleh sistem kekerabatan yang kuat, kontrol sosial yang kuat dimana dalam
kegiatan sehari-hari ditentukan oleh adaptasi, seperti moral dan hukum informal
begitu kuat melekat dengan tebalnya budaya islam.
Dinamika
kehidupan yang berkembang mengikuti perkembangan jaman perlahan mengalami
perubahan mesti jati diri masyarakat desa rajawetan yakni, kegotong royongan,
kekeluargaan dan saling menghormati.
Perkembangan
dan kemajuan jaman memang tidak mungkin bisa dihindari, dengan berbagai
kemudahan salah satu nya dengan ada nya kemudahan sarana prasarana infra
struktur sehngga semakn mudah terbukanya dunia perdesaan ke kehidupan terbuka
secara menyeluruh dengan demikian desa secara perlahan mengkota, dengan
memperlihatkan beberapa ciri perkotaan yang timbul, secara teoritis manaka
timbul sesuatu norma atau kebiasaan yang ada timbul maka norma atau kebiasaan
lama dengan sendirinya secara otomatis akan hilang sebuah pilihan yang memang
suka tidak suka memang harus bijaksana diterima.
Salah satu
sosial budaya yang telah hilang adalah Rumah Tangga Desa yang pada jamannya
dulu merupakan sebuah bentuk miniatur Perusahaan Rumah Tangga. Pada sosial
budaya lama kehidupan lama rumah ibarat sebuah perusahaan, dimana semua
penghuni rumah dari Ayah, Ibu dan anak semua dilibatkan untu ikut mengelola
rumah tangga, ketika ayah bekerja disawah sang ibu bekerja dirumah maka sang
anakpun ikut mencari kayu untuk memasak dan kemudianpun ikut mengembalakan
ternak milik keluarga, kehidupan sosial budaya yang begitu kuat dalam membangun
dan menjalankan sebuah keluarga, penuh disiplin, kebersamaan dan semua anggota
keluarga memegang teguh tanggung jawabnya.
4.
Mata
pencaharian dan Ekonomi
Pada sektor
mata pencaharian dan ekonomi ini terjadi sebuah perubahan yang sangat
signifikan, sektor pertanian dan perkebunan yang selama ini menjadi andalan
utama dan mata pencaharian pokok masyarakat desa Rajawetan dalam pemenuhan
kebutuhan ekonomi sehari-hari perlahan mulai ditinggalkan, terjadi banyak
pengurangan tenaga kerja yang bergelut pada bidang pertanian. Maka tidak
mengherankan ketika musim tanam tiba secara serempak ada beberapa lahan
pertanian yang tidak terkejar dalam pengelolaannya dan sampai-sampai karena
berkurangnya tenaga kerja yang tersedia akhirnya banyak lahan pertanian yang
disewakan kepada warga yang berasal dari desa lain.
Kenapa mereka meninggalkan lahan pertanian ?
- Kebutuhan hidup yang semakin tinggi
Dahulu
masyarakat desa yang sangat sederhana dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya hanya
sebatas pemenuhan sandang – pangan dan
papan dalam level sederhana dan wajar, dan kesemua kebutuhan hidup tersebut
di peroleh dari hasil panen sawah dan kebun,
pada masanya
dalam satu kali musim panen : atau katakanlah apabila mempunyai 3 kwintal padi dapat dan cukup dibagi-bagi
untuk memenuhi ketiga kebutuhan hidup diatas ;
satu kwintal
untuk makan (sandang) , satu kwintal
dijual untuk membeli lauk pauk dan baju (pangan)
dan satu kwintal digunakan untuk sarana rumah (papan) saat itu memang cukup.
Dengan
sistem dan pengelolaan bidang pertanian yang apabila sampai saat ini belum ada
perubahan seperti kwalitas pengolahan lahan persawahan, sarana produksi yang
cukup mahal sedangkan hasil tanam berbanding terbalik yakni harga hasil panen
sangat murah.
Kita dapat
bayangkan mungkinkah 3 kwintal padi tersebut mampu mencukupi kebutuhan hidup
saat ini yang cukup tinggi.
Apakah ini
pola hidup konsumtif atau memang sebuah kebutuhan yang harus ada ?
a.1. Perbedaan yang ada ketika memenuhi kebutuhan
untuk makan
- Waktu itu hanya menggunakan tungku
batu dan kayu bakar (tanpa nominal rupiah)
- Saat ini perlu kompor gas dan Gas
LPG 3 kg (harus ada nilai rupiah)
a.2. Perbedaan yang ada pada kebutuhan sandang
- Waktu itu, jumlah stel pakaian yang
di beli biasa nya 1 tahun sekali cukup ketika lebaran dan kebanyakan jenis baju
yang dibeli selain untuk bermain juga dipakai untuk sekolah
- Saat ini selain butuh baju seragam
juga ditambah baju main dan baju lainnya yang berbeda ditambah kelengkapan
sandang lainnya : sepatu – sandal – ples asesoris lain
a.3. Perbedaan yang ada pada kebutuhan papan
- Waktu itu masih banyak warga yang
melakukan MCK di sungai (masih tradisi), lantai tanah masih sederhana tanah
atau hanya cukup plesteran, dinding cukup dari bilik, dan perlengkapan rumah
tangga masih sangat sederhana tanpa listrik tentu tanpa TV dsb
- Saat ini bukan karena faktor mampu
namun faktor semakin tinggi pemahaman masyarakat akan arti pentingnya
kebersihan untuk kesehatan “
* Jadi bukan karena mampu membuat WC dan
Kamar mandi tapi kebutuhan kesehatan
* Jadi bukan karena mampu rumah bilik
menjadi bata
* dan bukan karena mampu lantai tanah
berubah menjadi ubin atau bahkan keramik
Kita tidak
dapat menyalahkan terjadi perubahan
nilai sosial dan budaya masyarakat Desa Rajawetan bahwa dengan semakin
tingginya biaya hidup tersebut akhirnya dengan terpaksa harus meninggalkan
bidang pertanian yang selama ini menjadi tumpuan hidup. Saat itu hanya ada tiga
kebutuhan hidup yang menjadi tanggungan tiap rumah tangga.
Saat ini
selain sandang – pangan – papan ditambah lagi pendidikan – kesehatan dan gaya
hidup (proses jaman). Ternyata bidang pertanian tak mampu mengimbangi kebutuhan
masyarakat yangselain tinggi juga berjalan secara cepat beriringan seolah tanpa
ada jarak diantara pemenuhan kbutuhan yang dengan kebutuhan yang lain. Bidang
pertanian terlalu lama menghasilkan sehingga masyarakat terutama usia tenaga
kerja akhirnya mencari sektor pekerjaan yang dapat menghasilkan uang secara
cepat dan instans.
- Pendidikan masyarakat
Kita merasa
bersyukur dan bangga justru perhatian pendidikan pada masyarakat Desa begitu
mengagumkan kebanyakan para orangtua yang sebagian besar tdk tamat SD dan Hanya
tamat SD, saat ini anak-anak mereka justru tingkat pendidikan melebihi kedua
orangtua mereka kebanyakan anak-anak para petani saat ini sekolah dan lulus
sampat tingkat lanjutan atas (SLA) sebuah kemajuan yang perlu diacungkan
jempol. Para orang kota justru seharusnya malu dengan tingkat pendidikan di
Desa, orang tua SD anak mampu Sampai SLA.
Orang kota
yang Orang Tuanya SLA Kebanyakan anaknya pun sama lulus SLA. Jelas ga ada
peningkatan yang berarti.
- Tingkat kehidupan dan Peningkatan kesejahteraan
Sub ini tak
bisan dilepaskan terkaitannya dengan Bidang pendidikan, cara pandang masyarakat
Desa mulai lebih melihat kedepan, dalam artian adanya perubahan kehidupan bagi
anak-anak dan generasi penerusnya, disatu sisi negara kita sebagai sebuah
negara agraris mengharapkan bidang pertanian harus terus dipertahankan untuk
memenuhi pangan rakyat indonesia secara umum.,kemudian apakah adil sementara
penduduk desa bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup orang-orang kota sedangkan
masyarakat kota sendiri tak pernah mau peduli dengan kondisi serta peranan
masyarakat Desa, sebagai objek tanpa pernah berubah menjadi subjek.
Tidak bisa
disalahkan ketika sebagian orangtua sama sekali tidak mengharapkan anak-anaknya
memanggul pacul, bekerja keras tanpa bisa mengharapkan hasilnya secara
maksimal. Mereka tidak mau :”Masa bapak nya tani anaknya pun harus menjadi
petani pula” yang pada akhirnya para orang tua berlomba lomba menyekolahkan
anak-anaknya sampai tingkat SLA bahkan tidak sedikit sampai tingkat perguruan
tinggi, yang dengan harapan apabila mampu menyelesaikan pendidikan yang lebih
tinggi dapat memperoleh pekerjaan diluar petani, dalam artian menaikan derajat
dan martabat orangtua, kenyataan seperti ini salah satu mengapa sektor
pertanian mulai ditinggalkan.
No comments:
Post a Comment