Disini... Di Desa. Kita Hidup, Berharap dan Mengabdi

Friday, 6 June 2014

SEJARAH DESA - SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT DESA RAJAWETAN



SISTEM KEMASYARAKATAN – SOSIAL BUDAYA

Sistim kekerabatan masyarakat Desa Rajawetan berdasarkan prinsip bilateral atau parental yaitu mengikuti garis keturunan Ayah dan Ibu, sedangkan dalam keluarga yang bertindak menjadi kepala keluarga adalah Ayah.  Berdasarkan asal usul terbentuknya desa Rajawetan didirikan hanya oleh 2 (Dua) orang buyut Yakni BUYUT TERSANA dan BUYUT BADOT jadi kalo dilihat silsilahnya sampai saat ini 80 persen penduduk dan warga Desa Rajawetan masih mempunyai garis keturunan yang sama dengan masih terikat tali persaudaraan sedarah “ atau  Baraya Kabeh “ sedangkan Keluarga batih adalah keluarga kecil yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak.
Sisitem kekerabatan atau turunan silsilah yang dipegang teguh oleh masyarakat Desa Rajawetan masih mengakui ego turunan generasi baik dari keluarga Ayah maupun garis keturunan Ibu.
Dengan terus menceritakan kepada anak dan cucunya siapa-siapa saja turunan dari Ibu dan Ayah, bahkan sampai memperkenalkan makam-makam para orang tua kepada anak-dan cucu tentang makam tersebut.
Adapun ego turunan/generasi yang melekat yakni :
v  Tujuh generasi keatas : kolot, Bapak kolot/Biang Kolot, Buyut, Bao, Jangga Wareng, Udeg Udeg dan Gantung Siwur
v  Tujuh Generasi Kebawah : Anak, Incu, Buyut, Bao, Jangga Wareng, Udeg Udeg dan Gantung Siwur


Namun sampai tulisan ini dibuat generasi yang mampu dan sampai kegenerasi/turunan ke empat hanya 1 (Satu) orang warga yaitu : IBU UTIMAH, beliau sampai pada generasi “ BAO (Generasi Keempat). Tingkatan generasi yang jarang dimasuki oleh siklus kehidupan manusia saat ini, Kebanyakan hanya masuk tingkatan ketiga “Buyut/Uyut.
Pada saat menentukan pasangan hidup para orang tua tidak pernah memaksakan kehendak nya atas pilihan kepada   keturunan tertentu dengan catatan dan masih tetap dipegang teguh  tidak melanggar ketentuan agama. Setelah menikah, penggantin baru diperbolehkan untuk memilih dimana harus menetap setelah menikah, di tempat kediaman istri atau suami tetapi pada umumnya mereka memilih tinggal di tempat baru atau neolokal.

1.        Bahasa

Bahasa sunda yang digunakan oleh penduduk Desa Rajawetan mengenal tingkatan dalam bahasa, yaitu bahasa untuk membedakan golongan usia dan status sosial antara lain, yaitu :
    Bahasa sunda lemes (halus) yaitu dipergunakan untuk berbicara dengan orang tua, orang yang dituakan atau disegani.
    Bahasa sunda sedang yaitu digunakan antara orang yang setaraf, baik usia maupun status sosialnya
    Bahasa sunda kasar yaitu digunakan oleh atasan kepada bawahan, atau kepada orang yang status sosialnya lebih rendah.

Dalam bahasa sunda dikenal pula kosa kata sejarah dan sarsilah (silsilah, silsilah) yang maknanya kurang lebih sama dengan kosa kata sejarah dan silsilah dalam bahasa Indonesia. Makna sejarah adalah susun galur atau garis keturunan seperti yang terdapat di wilayah Kabupaten Kuningan Umumnya atau pada regional wilayah Mandirancan dan pancalang, terdapat perbedaan dialek atau logat dalam mengungkapkan atau mengatakan suatu kata walau arti dan makna yang disampaikannya adalah sama, seperti yang ada di tiga Desa sekitar Desa Rajawetan, Desa Rajawetan – Desa Tajurbuntu dan Desa Mekarjaya padahal hanya berjarak puluhan meter saja sudah mempunyai dialek atau naik turunnya ucapan yang disampaikan.

2.    Agama dan Kepercayaan
Sebagian besar masyarakat Desa Rajawetan  menganut Agama Islam AHLI SUNNAH WALJAMAAH dan sebagian besar pula memeperoleh dasar Ilmu dan Pengetahuan Agama Islam  langsung dari Orang tua.
Seiring perjalanan waktu dan perkembangan jaman dimana arus globalisasi teknologi begitu cepat merambah ketiap sudut wilayah indonesa tidak terkecuali di Desa Rajawetan, dan kalau kita telaah sarana prasarana serta informasi bahkan pemenuhan berbagai kebutuhan hidup di desa sudah sangat mudah di akses dan di dapat, sehingga seolah tak ada batasannya, yang selama ini orang beda bedakan antara desa dan kota, yang membedakan hanya letak geografis, budaya dan gaya hidup semata. Yang lain sama saja.
Dari berbagai kemudahan kemudahan tersebut diatas pada titik tertentu akhirnya sedikit demi sedikit mampu menggeser adat dan kebiasaan yang ada di Desa Rajawetan. Sebelum masuknya pengaruh tersesebut diatas banyak kegiatan pengajian yang dilaksanakan di rumah para guru ngaji maupun tajuk, serta dengan begitu antusianya anak-anak yang mengikuti pengajian, beberapa tokoh Guru ngaji yang sampai saat ini masih dapat kita minta ilmunya seperti : Bapak Asbur – Bapak Jamhari – Bapak Apandi dan Bapak Sukmana, begitu besar kontribusi beliau dalam hal mencetak pribadi – pribadi muslim di Desa.
Ketika masa transisi perubahan karakter terjadi dimana ada beberapa tradisi dan rutinitas kehidupan desa mulai hilang, kita merasa bersyukur dengan difasilitasi oleh pemerintah saat ini telah berdiri Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah di bawah binaan Bapak Ustadz Muhamad Yusuf Abdul Rouf. (Ustadz Uje), seiring perjalanan dan suka duka serta kondisi yang sangat serba kekurangan terutama dalam hal kelengkapan sarana dan prasarana, namun dengan penuh kesabaran, keikhlasan dan penuh rasa pengabdian kegiatan MDTA sampai saat ini masih eksis berjalan, dan telah mampu mengikuti kegiatan ujian beberapa kali bagi para siswanya.
Memang terlintas dalam benak kita semua dan andai kita mau jujur, timbul pertanyaan yang membebani dan menganjal di hati kita masing-masing. Perihal kenapa justru kegiatan bidang keagamaan masih terlupakan terutama dalam program perencanaan yang berkaitan dengan keagamaan. Kami selaku penulis dan juga atas nama pemerintahan desa di Rajawetan, saat ini setelah program jangka menengah desa lima tahunan akan berakhir baru terbesit dalam pikiran kenapa kegiatan pembangunan khususnya bidang keagamaan belum tertuang menjadi skala prioritas, secara pribadi kami jelas merasa terpukul namun secara kepemrintahan ini merupakan kesalahan kita bersama.
Kenapa pada disaat penyusunan RPJMDes, kemudian pada kegiatan Musrenbangdes yang pada akhirnya disusun RKPDes (Kegiatan pembangunan Tahunan)  Musyawarah bersama masyarakat kegiatan bidang Agama tersebut terlupakan. Sehingga dengan sendirinya pada program rencana kerja yang kami buat jelas berdasarkan hasil musyawarah bersama masyarakat.
Semoga hal ini menjadi bahan pemikiran bersama bagi kita semua terutama Pemerintah Desa Rajawetan untuk lebih memperhatikan bidang keagamaan terutama bidang pendidikan agama untuk para putra-putri kita. Sangat miris dan prihatin kalo kita melihat kondisi umum bangsa indonesia yang telah benar-benar hancur dan terpuruk ini akibat tingkat keimanan dan moral bangsa telah rusak bahkan terkesan hancur, mungkin salah satu cara untuk menyelamatkan nasib bangsa kita kedepan adalah dengan saat ini dan detik ini kita ciptakan generasi penerus bangsa yang mempunyai ahklak yang mulia sehingga mampu menghadang godaan-godaan yang bakal menghancurkan derajat moral bangsa ke jurang kehancuran.
Adalah sebuah kealpaan cukup besar bagi kami selaku pemerintah desa apabila pada tahun-tahun berikutnya masih belum mampu memasukan kegiatan bidang agama kedalam pembangunan prioritas di Desa, terutama pembangunan bidang pendidikan agama di MDTA, adalah sebuah ironi atau mungkin sebuah hiperbola ketika MDTA yang jelas-jelas lebih dulu ada di banding Pendidikan anak usia dini (PAUD) bagi putra-putri kita malah lebih dulu memperoleh porsi yang lebih, memang keduanya sama-sama mendidik putra-putri kita namun akan lebih bijaksana apabila kedua bidang pendidikan tersebut kita tempatkan pada posisi yang seimbang.
Semoga Allah SWT mau memaafkan kita semua atas sedikit kealpaan yang pernah diperbuat>
Dalam kesempatan ini Kami mengingatkan, terutamam bagi diri sendiri, masyarakat serta khususnya Pemerintah Desa Rajawetan agar memasukan Kegiatan Pendidikan Bidang Keagamaan pada RPJMDes yang akan kembali disusun, serta mengagendakan MDTA serta memasukannya pada skala priotitas kegiatan pembangunan di RKPdes tiap tahun berjalan, semoga apabila hal tersebut bisa dimasukan kedalam rencana prioritas mudah-mudahan pula dapat menjadi pedoman bagi Pemerintah Desa dalam pelaksanaan dan Realisasinya.

3.     Sosial Budaya

Desa Rajawetan merupakan desa induk, berdiri awal secara kultural budaya yang ada di sebagian besar Desa-desa yang ada di Pulau Jawa, dengan berbagai keterikatan oleh sistem kekerabatan yang kuat, kontrol sosial yang kuat dimana dalam kegiatan sehari-hari ditentukan oleh adaptasi, seperti moral dan hukum informal begitu kuat melekat dengan tebalnya budaya islam.
Dinamika kehidupan yang berkembang mengikuti perkembangan jaman perlahan mengalami perubahan mesti jati diri masyarakat desa rajawetan yakni, kegotong royongan, kekeluargaan dan saling menghormati.
Perkembangan dan kemajuan jaman memang tidak mungkin bisa dihindari, dengan berbagai kemudahan salah satu nya dengan ada nya kemudahan sarana prasarana infra struktur sehngga semakn mudah terbukanya dunia perdesaan ke kehidupan terbuka secara menyeluruh dengan demikian desa secara perlahan mengkota, dengan memperlihatkan beberapa ciri perkotaan yang timbul, secara teoritis manaka timbul sesuatu norma atau kebiasaan yang ada timbul maka norma atau kebiasaan lama dengan sendirinya secara otomatis akan hilang sebuah pilihan yang memang suka tidak suka memang harus bijaksana diterima.
Salah satu sosial budaya yang telah hilang adalah Rumah Tangga Desa yang pada jamannya dulu merupakan sebuah bentuk miniatur Perusahaan Rumah Tangga. Pada sosial budaya lama kehidupan lama rumah ibarat sebuah perusahaan, dimana semua penghuni rumah dari Ayah, Ibu dan anak semua dilibatkan untu ikut mengelola rumah tangga, ketika ayah bekerja disawah sang ibu bekerja dirumah maka sang anakpun ikut mencari kayu untuk memasak dan kemudianpun ikut mengembalakan ternak milik keluarga, kehidupan sosial budaya yang begitu kuat dalam membangun dan menjalankan sebuah keluarga, penuh disiplin, kebersamaan dan semua anggota keluarga memegang teguh tanggung jawabnya.


4.     Mata pencaharian dan Ekonomi

Pada sektor mata pencaharian dan ekonomi ini terjadi sebuah perubahan yang sangat signifikan, sektor pertanian dan perkebunan yang selama ini menjadi andalan utama dan mata pencaharian pokok masyarakat desa Rajawetan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi sehari-hari perlahan mulai ditinggalkan, terjadi banyak pengurangan tenaga kerja yang bergelut pada bidang pertanian. Maka tidak mengherankan ketika musim tanam tiba secara serempak ada beberapa lahan pertanian yang tidak terkejar dalam pengelolaannya dan sampai-sampai karena berkurangnya tenaga kerja yang tersedia akhirnya banyak lahan pertanian yang disewakan kepada warga yang berasal dari desa lain.
Kenapa mereka meninggalkan lahan pertanian ?
  1. Kebutuhan hidup yang semakin tinggi
Dahulu masyarakat desa yang sangat sederhana dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya hanya sebatas pemenuhan sandang – pangan dan papan dalam level sederhana dan wajar, dan kesemua kebutuhan hidup tersebut di peroleh dari hasil panen sawah dan kebun,
pada masanya dalam satu kali musim panen : atau katakanlah apabila mempunyai 3  kwintal padi dapat dan cukup dibagi-bagi untuk memenuhi ketiga kebutuhan hidup diatas ;
satu kwintal untuk makan (sandang) , satu kwintal dijual untuk membeli lauk pauk dan baju (pangan) dan satu kwintal digunakan untuk sarana rumah (papan) saat itu memang cukup.
Dengan sistem dan pengelolaan bidang pertanian yang apabila sampai saat ini belum ada perubahan seperti kwalitas pengolahan lahan persawahan, sarana produksi yang cukup mahal sedangkan hasil tanam berbanding terbalik yakni harga hasil panen sangat murah.

Kita dapat bayangkan mungkinkah 3 kwintal padi tersebut mampu mencukupi kebutuhan hidup saat ini yang cukup tinggi.
Apakah ini pola hidup konsumtif atau memang sebuah kebutuhan yang harus ada ?
a.1.   Perbedaan yang ada ketika memenuhi kebutuhan untuk makan
          - Waktu itu hanya menggunakan tungku batu dan kayu bakar (tanpa nominal rupiah)
          - Saat ini perlu kompor gas dan Gas LPG 3 kg (harus ada nilai rupiah)
a.2.   Perbedaan yang ada pada kebutuhan sandang
          - Waktu itu, jumlah stel pakaian yang di beli biasa nya 1 tahun sekali cukup ketika lebaran dan kebanyakan jenis baju yang dibeli selain untuk bermain juga dipakai untuk sekolah
          - Saat ini selain butuh baju seragam juga ditambah baju main dan baju lainnya yang berbeda ditambah kelengkapan sandang lainnya : sepatu – sandal – ples asesoris lain
a.3.   Perbedaan yang ada pada kebutuhan papan
          - Waktu itu masih banyak warga yang melakukan MCK di sungai (masih tradisi), lantai tanah masih sederhana tanah atau hanya cukup plesteran, dinding cukup dari bilik, dan perlengkapan rumah tangga masih sangat sederhana tanpa listrik tentu tanpa TV dsb
          - Saat ini bukan karena faktor mampu namun faktor semakin tinggi pemahaman masyarakat akan arti pentingnya kebersihan untuk kesehatan “
          * Jadi bukan karena mampu membuat WC dan Kamar mandi tapi kebutuhan kesehatan
          * Jadi bukan karena mampu rumah bilik menjadi bata
          * dan bukan karena mampu lantai tanah berubah menjadi ubin atau bahkan keramik

Kita tidak dapat menyalahkan  terjadi perubahan nilai sosial dan budaya masyarakat Desa Rajawetan bahwa dengan semakin tingginya biaya hidup tersebut akhirnya dengan terpaksa harus meninggalkan bidang pertanian yang selama ini menjadi tumpuan hidup. Saat itu hanya ada tiga kebutuhan hidup yang menjadi tanggungan tiap rumah tangga.
Saat ini selain sandang – pangan – papan ditambah lagi pendidikan – kesehatan dan gaya hidup (proses jaman). Ternyata bidang pertanian tak mampu mengimbangi kebutuhan masyarakat yangselain tinggi juga berjalan secara cepat beriringan seolah tanpa ada jarak diantara pemenuhan kbutuhan yang dengan kebutuhan yang lain. Bidang pertanian terlalu lama menghasilkan sehingga masyarakat terutama usia tenaga kerja akhirnya mencari sektor pekerjaan yang dapat menghasilkan uang secara cepat dan instans.

  1. Pendidikan masyarakat
Kita merasa bersyukur dan bangga justru perhatian pendidikan pada masyarakat Desa begitu mengagumkan kebanyakan para orangtua yang sebagian besar tdk tamat SD dan Hanya tamat SD, saat ini anak-anak mereka justru tingkat pendidikan melebihi kedua orangtua mereka kebanyakan anak-anak para petani saat ini sekolah dan lulus sampat tingkat lanjutan atas (SLA) sebuah kemajuan yang perlu diacungkan jempol. Para orang kota justru seharusnya malu dengan tingkat pendidikan di Desa, orang tua SD anak mampu Sampai SLA.
Orang kota yang Orang Tuanya SLA Kebanyakan anaknya pun sama lulus SLA. Jelas ga ada peningkatan yang berarti.

  1. Tingkat kehidupan dan Peningkatan kesejahteraan
Sub ini tak bisan dilepaskan terkaitannya dengan Bidang pendidikan, cara pandang masyarakat Desa mulai lebih melihat kedepan, dalam artian adanya perubahan kehidupan bagi anak-anak dan generasi penerusnya, disatu sisi negara kita sebagai sebuah negara agraris mengharapkan bidang pertanian harus terus dipertahankan untuk memenuhi pangan rakyat indonesia secara umum.,kemudian apakah adil sementara penduduk desa bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup orang-orang kota sedangkan masyarakat kota sendiri tak pernah mau peduli dengan kondisi serta peranan masyarakat Desa, sebagai objek tanpa pernah berubah menjadi subjek.
Tidak bisa disalahkan ketika sebagian orangtua sama sekali tidak mengharapkan anak-anaknya memanggul pacul, bekerja keras tanpa bisa mengharapkan hasilnya secara maksimal. Mereka tidak mau :”Masa bapak nya tani anaknya pun harus menjadi petani pula” yang pada akhirnya para orang tua berlomba lomba menyekolahkan anak-anaknya sampai tingkat SLA bahkan tidak sedikit sampai tingkat perguruan tinggi, yang dengan harapan apabila mampu menyelesaikan pendidikan yang lebih tinggi dapat memperoleh pekerjaan diluar petani, dalam artian menaikan derajat dan martabat orangtua, kenyataan seperti ini salah satu mengapa sektor pertanian mulai ditinggalkan.

               
         



No comments:

Post a Comment

Blog Archive